Sabtu, 01 Oktober 2011

KAMPUNG KUIN dan SEJARAH KESULTANAN BANJARMASIN (1)








'Bandarmasih', 'Banjarmasih', atau 'Banjarmasin' ternyata merupakan nama-nama yang sama untuk menyebut ibukota propinsi Kalimantan Selatan yang usianya telah mencapai hampir lima ratus tahun dan sarat dengan kisah heroik.

Keadaan Banjarmasin yang berada di bawah permukaan air laut serta mempunyai banyak sungai -besar dan kecil- membuat masyarakatnya akrab dengan kehidupan di air.  Sungai , air dan manusia saling mempunyai keterkaitan dan isi mengisi untuk hidup.  Di beberapa tempat atau bagian tertentu daerah aliran sungai terdapat 'pasar di atas air', atau pasar terapung. Untuk waktu sekarang, pasar terapung di Muara Kuin merupakan salah satu sisa dari banyak lokasi pasar terapung yang pernah ada.

Muara Kuin atau tepatnya Kampung Kuin di Kelurahan Kuin Utara sekarang, merupakan wilayah bersejarah.  Pada awal masa berdirinya, kota Banjarmasin memang bermula di Kampung Kuin; sebuah bandar orang-orang Melayu yang didirikan Patih Masih pada permulaan Abad 15.  Kampung Kuin, Sungai Kuin dan daerah-daerah disekitarnya menjadi tempat aktivitas masyarakat dan kawula Kerajaan Banjar yang ramai di bidang ekonomi dan perdagangan. Sampai keadaan berubah ketika watak dan tabiat bangsa-bangsa kolonial memasuki wilayah ini di lain masa.

Kuin sebagai pusat pemerintahan dan ibukota Kerajaan Banjar pada masa itu lebih popoler dengan sebutan 'Bandarmasih' atau 'Banjarmasih', sedangkan nama 'Banjarmasin' sendiri timbul akibat kesalahan pengucapan para serdadu kolonial dan orang-orang Belanda maupun pendatang asing lainnya dari Erofa.  Sampai sekitar tahun 1664, arsip Kerajaan Belanda berupa surat-surat yang dikirim ke wilayah Hindia Belanda untuk sultan-sultan yang memerintah di Kerajaan Banjarmasih, tetap menyebut Kerajaan Banjarmasih dalam versi ucapan Belanda; 'Bandzermash'. Kemudian sesudah tahun 1664 menjadi 'Bandjermassinghh', dan 'Bandjermasing' (tanpa huruf s dan hh).

Sebagaimana kerajaan maritim bercorak Islam lainnya di Nusantara sekitar Abad ke-16 dan ke-17, 'Banjarmasih' yang terletak di pesisir dan muara sungai besar sekitar Muara Kuin sekarang, menggantungkan perekonomiannya di bidang perdagangan dan pelayaran luar negeri.

Jung-jung Banjar yang besar untuk pelayaran inter-insuler dan interkontinental, terutama untuk pelayaran ke Tanah Seberang (Jawa), telah mampu dimiliki dan dibuat galangan kapal 'Banjarmasih'.  Sehingga sebagai pusat kerajaan dan kota pelabuhan, 'Banjarmasih' saat itu merupakan bandar internasional yang ramai disinggahi kapal-kapal dari berbagai wilayah Nusantara dan dari berbagai bangsa di dunia.

Dalam kurun waktu itu pula ............


bersambung ...............................................................................................

Senin, 26 September 2011

RATU JALEHA, SRIKANDI GAGAH BERANI DALAM PERANG BANJARMASIN

Gambar Gusti (Ratu) Jaleha, diambil/diabadikan oleh Gusti Sugiannoor secara sembunyi-sembunyi atas permintaan H.Gusti Mayur, S.H. (penulis buku 'Perang Banjar') di Banjarmasin, beberapa tahun sebelum 'srikandi Perang Banjar' ini berpulang ke rahmatullah di rumah kontrakan sederhana Beliau di Banjarmasin.


Tidak banyak sumber tertulis di Banua yang memuat informasi lengkap dan mendetail mengenai sosok dan sepak terjang pejuang wanita berdarah bangsawan Banjar, puteri dari Sultan Muhammad Seman atau raja terakhir Kerajaan Banjar yang bertahta di Kraton Baras Kuning - Menawing, Hulu Barito, dalam kiprahnya ketika melakukan perlawanan terhadap pihak kolonial Belanda di wilayah Dusun Hulu (Propinsi Kalimantan Tengah sekarang) yang dahulu merupakan teritorial Kerajaan Banjar.
Akibat keterbatasan sumber tertulis yang akan dijadikan referensi untuk tulisan mengenai sosok dan perjuangan Ratu Jaleha, berakibat terkatung-katungnya rencana pemuatan tulisan ini dalam blog saya; Suluh Banjar.

Untungnya , ketika Penulis bersilaturahim dan melakukan wawancara dengan Ibu Hajjah Gusti Hindun pada hari Senin tanggal 26 September 2011 di tempat kediaman Beliau, Penulis diperlihatkan beberapa lembar foto lama dan langka serta dua lembar kertas foto copy-an  berisi tulisan tentang sosok Ratu Jaleha yang ditulis oleh Drs.H.Yustan Aziddin (salah satu tokoh pers Kalimantan Selatan dan pemilik surat kabar harian Banjarmasin Post). Gambar di atas, yang dijadikan pembuka tulisan ini adalah pemberian dari Ibu Hajjah Gusti Hindun, yang diambil/di-reproduksi dari artikel Banjarmasin Post tersebut. Gambar/photo asli sudah tidak diketahui lagi rimbanya. Maka sangat beruntung, kita generasi muda Banjar masih dapat melihat photo yang ada ini.

Sebelum meneruskan tulisan tentang Ratu Jaleha lebih jauh lagi, ada baiknya Penulis singgung serba sedikit mengenai Ibu Hajjah Gusti Hindun. Beliau adalah cicit langsung oleh pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Kalimantan Selatan, Pangeran Antasari. Sebagaimana tradisi dalam lingkup aristokrat Banjar, gelar 'gusti' diperoleh karena faktor keturunan dari ayahnda beliau, yakni Gusti Muhammad Arsyad bin Panembahan Muhammad Said bin Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Antasari. Gusti Hindun adalah (salah satu) puteri Gusti Muhammad Arsyad dari salah satu isteri  beliau yang seorang perempuan bangsawan Banjar juga.


Kelahiran Srikandi Perang Banjar 

Opensif pasukan Hindia Belanda yang terus menerus (Pengaron berhasil direbut tentara Belanda, Februari 1860 menyusul wilayah Amuntai --yang oleh Pangeran Hidayatullah rencananya akan dijadikan 'Martapura Baru' alias kraton pengganti setelah kraton di Martapura dibakar habis atau dibumihanguskan oleh Belanda) membuat Pangeran Antasari beserta seluruh anggota keluarga dan kerabat Kerajaan Banjar yang menolak tunduk kepada residen Banjarmasin, mundur dan melakukan long march ke Tanah Dusun di pedalaman Barito.

Di wilayah Tanah Dusun beliau tinggal menetap dengan kerabat dekat istrinya yang berdarah Dayak Siang-Murung bernama Temenggung Surapati, pemimpin kharismatik suku Dayak Siang-Murung yang sangat disegani oleh lawan maupun kawan sesama suku Dayak di seluruh daerah Barito, Siang dan Murung, bahkan sampai ke wilayah Mahakam (Hulu), suatu wilayah yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Kutai, serta sebagian wilayah yang sekarang menjadi provinsi Kalimantan Barat.

Ikatan perkawinan antara pangeran-pangeran dari kalangan bangsawan Banjar dengan puteri-puteri dari para pemimpin Dayak terkemuka memang lazim dilakukan, dan hal ini berlangsung sejak awal terbentuknya dinasti raja-raja Banjarmasin. Dari perkawinan Pangeran Antasari dengan kerabat dekat (ada yang menyebut adik dari) Temenggung Surapati bernama Nyai Fatimah melahirkan seorang anak lelaki bernama Gusti Muhammad Seman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gusti Mat Seman.

Tahun kelahiran Gusti Mat Seman diperkirakan sekitar tahun 1897, masa-masa dimana tentara Kompeni Belanda sedang gencar-gencarnya berusaha mematahkan dan melumpuhkan perlawanan orang-orang Banjar.

Selama perlawanan berlangsung dan setelah Pangeran Antasari wafat oleh sebab usia tua (bukan tewas atau tertangkap tentara Belanda) pada tanggal 11 Oktober 1862 di Bayan Begok - Sampirang di hulu Sungai Teweh, peperangan dilanjutkan oleh kedua putera beliau ; kakak beradik lain ibu, Gusti Muhammad Said dan Gusti Muhammad Seman. Keduanya kemudian diangkat oleh para bangsawan Kerajaan Banjar dan pemuka-pemuka perang suku Dayak (Bakumpai, Ngaju, Siang - Murung, Ot Danum) sebagai penerus dan yang berhak atas takhta Kerajaan Banjar yang disebut dengan Pemerintahan Pegustian. Gusti Muhammad Said menjadi Panembahan Muhammad Said, memerintah didampingi oleh Gusti Muhammad Seman yang menjabat sebagai sultan; Sultan Muhammad Seman.

Ketika Panembahan Muhammad Said meninggal dunia akibat terjangkit wabah penyakit cacar yang melanda wilayah pedalaman Tanah Dusun sekitar tahun 1875, Pemerintahan Pegustian yang berpusat di daerah Sungai Menawing dengan beribu-kota di Baras Kuning --(tempat ini lebih tepat disebut semacam miniatur dari Kesultanan Banjarmasin karena disinilah disimpan benda-benda pusaka kerajaan)-- seterusnya dipimpin oleh Sultan Muhammad Seman dengan didampingi beberapa kerabatnya yang terkemuka, terutama putera-putera almarhum Panembahan Muhammad Said seperti Pangeran Perbatasari (Gusti Muhammad Tarip), Pangeran Prabu Anom (Gusti Abdullah), Gusti Muhammad Arsyad.

Di lembah Sungai Barito, tepatnya di daerah Muara Laung yang relatif lebih aman dan jauh dari kontrol pasukan Belanda, istri Sultan Muhammad Seman yang bernama Nyai Salmah melahirkan seorang anak perempuan, yang kemudian diberi nama Gusti Jaleha, pada kurang lebih tahun 1880. Peristiwa kelahiran ini hanya mampu dirayakan secara sederhana karena Pemerintahan Pegustian masih dalam kondisi berperang dengan Belanda. Tetapi Sultan Muhammad Seman tetap mengundang para kerabat dekatnya -para gusti maupun pembesar suku Dayak yang ada di daerah Dususn Hulu dalam upacara pemberian nama bagi anak perempuannya yang kedua ini.

Selanjutnya Gusti Jaleha tubuh besar dan dewasa dalam tempaan suasana peperangan. Bersama-sama dengan saudara-saudaranya se-ayah (Pangeran Banjarmas dan Gusti Dijah; dari istri Sultan Muhammad Seman yang bernama Nyai Banun. Gusti Berakit atau Gusti Berkek; yang lahir dari istri Sultan Muhammad Seman bernama Nyai Mariamah) maupun dengan saudara-saudara sepupunya; Pangeran Perbatasari, Pangeran Prabu Anom, dan Gusti Muhammad Arsyad, ia mewarisi semangat kepahlawanan langsung dari ayahanda maupun kakeknya. Di usia yang relatif muda, Gusti jaleha dinikahkan oleh Sultan Muhammad Seman dengan saudara sepupunya, Gusti Muhammad Arsyad, putera bungsu Panembahan Muhammad Said.

Menarik disini untuk dicermati tentang kedudukan atau posisi Gusti Muhammad Arsyad yang ternyata sangat menonjol dalam pandangan Sultan Muhammad Seman, mertua sekaligus pamandanya sendiri.  Setelah kematian kakaknya -Gusti Abdullah atau Pangeran Prabu Anom- dalam suatu pertempuran yang sengit di Benteng Manduruian pada tahun 1883 (lebih lengkap, baca artikel lain dalam blog ini: PERAN SNOUCK HURGRONYE DAN PEJUANG-PEJUANG ACEH DALAM PERANG BANJAR), dan kakaknya yang tertua -Gusti Muhammad Tarip atau Pangeran Perbatasari- tertangkap*) oleh tentara Belanda di wilayah Kerajaan Kutai dan kemudian diasingkan ke Tondano pada tahu 1885, Gusti Muhammad Arsyad menjadi keturunan satu-satunya dari Panembahan Muhammad Said yang mempunyai hak untuk menjadi seorang 'panembahan' menggantikan kedudukan Panembahan Muhammad Said -ayahandanya sendiri, yang telah wafat- yang telah lama lowong.. Kedudukan Gusti Muhammad Arsyad menjadi lebih kuat lagi setelah ia menikah dengan saudara sepupunya sendiri; Gusti Jaleha.

Dengan tempaan dari dua orang sosok lelaki tangguh -Sultan Muhammad Seman; ayahandanya sendiri, dan Gusti Muhammad Arsyad; saudara sepupu sekaligus yang menjadi suaminya- Gusti Jaleha menjadi pribadi wanita yang 'tahan apilan'. Sekitar bulan Januari 1905, dalam suatu pertempuran hidup mati di Kalang Barah-Sungai Menawing di lembah Sungai Barito melawan sepasukan tentara marsose yang sangat efisien dan berpengalaman dalam medan pertempuran pada masa Perang Aceh, dan sama-sama dipimpin oleh komandan bernama Letnan Hans Christoffel (menjabat sebagai residen sipil dan militer Hindia Belanda untukwilayah Puruk Cahu sejak tanggal 1 Januari 1905), ayahandanya -Sultan Muhammad Seman- gugur bersama beberapa pengikutnya.

Setelah pertempuran berdarah di Kalang Barah yang berujung dengan gugurnya Sultan Muhammad Seman, anggota-anggota Pemerintahan Pegustian sama-sama saling berpencar untuk menyelamatkan diri demi menghindar dari kejaran pasukan tentara marssssose Belanda, sekaligus menyusun rencana baru untuk nantinya balik menyerang pada kesempatan yang lain.

Satu kelompok di bawah pimpinan Antung Kuwing (nama lain dari Gusti Iskandar; putera dari Pangeran Perbatasari bin Panembahan Muhammad Said dengan Gusti Dijah) menyelamatkan diri ke daerah Barito Hulu, tepatnya sekitar wilayah Tumbang Kucu atau di wilayah Muara Sungai Bubuat. Sedangkan satu kelompok lagi berada di bawah pimpinan Gusti Berakit (Gusti Berkek), putera dari Sultan Muhammad Seman dari isteri beliau yang bernama Nyai Mariamah. Di kelompok inilah Gusti Jaleha bergabung, termasuk juga didalamnya adalah ibunda Gusti Jaleha bernama Nyai Salmah dan sebagian besar anggota-anggota wanita Pegustian, antara lain; Antung Pracang, Gusti Sarehat, Nyai Juntai (nama lain dari Nyai Mariamah), Nyai Banun, Gusti Intan, Gusti lantih.

Ikut juga bergabung dalam pasukan Gusti Berakit dan Gusti Jaleha ini Panglima Amir (Panglima Aceh) dan panglima Usup (tentara atau veteran pejuang asal Kerajaan Aceh yang bergabung dan sangat aktif mendukung Pemerintahan Pegustian) serta pejuang-pejuang lain asal suku Dayak Siang Murung, terutama generasi kedua dan ketiga dari Temenggung Surapati.

Dengan berat hati, dan mata yang terus saja sembap oleh genangan airmata kesedihan akibat kematian yang mengenaskan dari Sultan Muhammad Seman (ini merupakan kejadian ke sekian kali yang terberat dialami Gusti Jaleha setelah peristiwa pengasingan suaminya -Gusti Muhammad Arsyad- ke Batavia, kemudian ke Buitenzorg/Bogor, oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1904, dan penangkapan/pengasingan Pangeran Perbatasari ke Tondano sebelum itu), Gusti Jaleha beserta pasukannya melakukan gerakan memutar untuk menjauhi desa Kalang Barah yang telah porak poranda akibat dibumihanguskan oleh pasukan marsose.

Dari sungai Menawing pasukan Gusti Berakit dan Gusti Jaleha melakukan perjalanan panjang dan sangat menguras tenaga ke arah sungai Lahey, lalu diteruskan ke Mea; sebuah perkampungan yang terletak di tepi Sungai Barito tepatnya di daerah Teweh Hulu. Tempat ini dipilih karena kondisi perkampungannya relatif lebih aman disebabkan letaknya yang terisolir dan sangat sulit didatangi bagi orang-orang luar yang belum terlalu menggenal betul kondisi wilayahnya.

Manuver yang terus menerus oleh Letnan Hans Christoffel beserta anggota pasukan marsosenya yang sangat berpengalaman dalam beberapa kali peperangan besar di Nusantara semisal perang di Aceh, yang waktunya hampir berdekatan dengan perang di wilayah Kerajaan Banjar,  memaksa mereka menaklukkan belantara lebat Kalimantan yang tak bersahabat, dan kondisinya hampir sama persis dengan hutan-hutan di Aceh/Sumatera sehingga akhirnya mampu menjejakkan kaki mereka di Teweh Hulu, tidak jauh dari Mea tempat persembunyian pasukan Gusti Berakit dan Gusti Jaleha.

Keesokan harinya sekitar bulan Juni 1905, pasukan marsose memblokade ...............................    




bersambung .............................



Catatan :
  • *)  Menurut catatan Amir Hasan Kiai Bondan dalam 'Suluh Sejarah Kalimantan', halaman 73 dikatakan; "1885    Dalam perkelahian di Pahu (Kutai) Pangeran Perbatasari menantu Gusti Mat Seman tertangkap serta diasingkan di Tondano".
  • *)  Sedangkan Helius Sjamsuddin dalam 'Pegustian dan Temenggung', halaman 325 dan seterusnya mengatakan, " ............ Perbatasari dan orang-orangnya dengan mudah tetapi 'secara khianat' ditangkap atas perintah Sultan Kutai dan mereka kemudian diserahkan kepada Asisten Residen Tromp".


Sumber Bacaan dan Kepustakaan

Sabtu, 25 Juni 2011

BENTENG TABONEO DAN PERJUANGAN RAKYAT DALAM PERANG BANJARMASIN

Benteng Taboneo ketika dalam penguasaan VOC Belanda, yang dibuat/digambar oleh seniman Belanda



Taboneo adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut. Persisnya berada di muara Sungai Taboneo dan berhulu di kawasan Gunung Ratus, yang termasuk dalam rangkaian dari Pegunungan Meratus. Jaraknya dari kota Banjarmasin kurang lebih 100 kilometer.

Fungsi Sungai Taboneo sendiri pada masa Kerajaan Banjar (kraton di Kuin maupun kraton di Martapura) sampai sekitar abad ke-19 merupakan sarana lalu lintas terpenting selain Sungai Barito (Sungai Dusun) dan Sungai Martapura, sebelum adanya jalan darat seperti sekarang. Tambahan lagi, lewat sungai dan wilayah Taboneo inilah terbuka akses hubungan yang lebih luas ke wilayah lain, terutama ke Pulau Jawa karena keadaan wilayahnya yang menghadap langsung ke Laut Jawa.

Sebenarnya jauh sebelum benteng Belanda ini berdiri, wilayah sekitar Taboneo sudah berpenghuni. Letak hunian atau perkampungan awal ini sekitar satu sampai dua kilometer agak ke hulu dari komplek perbentengan. Nama kampung ini adalah Kampung Melayu. Di Kampung Melayu inilah oleh Sultan Mustain Billah atau Marhum Panembahan (1650 - 1678) sebagian rakyat Kerajaan Banjar dipindahkan ke Taboneo untuk bertanam lada, komoditas utama Negeri Banjar pada masa itu.

Adapun fisik Benteng Taboneo sekarang hanya tersisa fondasinya saja, alias sudah runtuh. Dilihat dari fondasi bangunan yang begitu tebal serta arealnya yang cukup luas, ada kemungkinan bahwa benteng ini oleh pihak VOC Belanda dianggap sebagai aset yang sangat berharga dan penting, yang memang dibangun untuk tujuan-tujuan yang strategis sifatnya. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa fakta yang terungkap kemudian. Dengan kata lain, karena posisinya yang sedemikian penting itulah sehingga membuat VOC Belanda berupaya sekuat tenaga mendekati penguasa di kraton Martapura untuk saling mengikat perjanjian.


Traktat Sultan dengan VOC Belanda


Memonopoli perdagangan ternyata adalah faktor yang menjadi alasan utama VOC Belanda mendirikan Benteng Taboneo. Untuk menguasai jalur perdagangan ke Negeri Banjar yang menjadi produsen komoditas penting dan berharga mahal, lada, dari saingan-saingannya para pedagang bangsa lain seperti Portugis, Inggris, Cina, Bugis, Jawa, dan lain-lain, VOC Belanda kemudian berinisiatif mengadakan perjanjian dagang dengan Kerajaan Banjar.

Perjanjian itu dimuat dalam Tractaat bertanggal 13 Agustus 1787, yang mana dalam perjanjian itu Sunan Nata Alam, Sultan Sulaiman, Sultan Adam dan Ratu Anom Ismail bersama-sama membubuhkan tanda tangannya. Sedangkan pihak VOC Belanda diwakili oleh Cr. Hoffman.
Tractaat 1787 memuat beberapa poin kesepakatan. Didalamnya disebutkan, VOC Belanda diberikan keleluasaan menguasai jalur perdagangan pesisir di wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar mulai dari wilayah Paser, Pulau Laut, Taboneo dan daerah-daerah pesisir yang ada di sekitarnya, kemudian Tatas, Mendawai, Sampit, Pembuang, dan Kotawaringin. Intinya, berlaku kesepakatan (pemaksaan ataukah penipuan?) bahwa komoditas penting yang dihasilkan oleh Negeri Banjar hanya boleh diperdagangkan dengan pihak VOC Belanda dan antek-anteknya.

Poin lain dari Tractaat 13 Agustus 1787 tersebut adalah;  pihak Kerajaan Banjar mengijinkan Serikat Dagang Belanda di Hindia Timur ini untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan di muara Sungai Taboneo.
Jauh sebelum Tractaat 1787 ditandatangani, kraton Banjar di Martapura pada tahun 1756 pernah bersepakat dengan VOC Belanda untuk menyerahkan wilayah Pulau Tatas yang terletak di wilayah Banjar Lama atau kota Banjarmasin sekarang kedalam kekuasaan Kompeni Belanda.  Upaya tersebut langsung saja ditanggapi VOC dengan mendirikan sebuah benteng pertahanan yang kuat di Pulau Tatas. Benteng ini oleh VOC Belanda diberi nama Fort van Tatas. Lokasinya adalah persis dimana Komplek Masjid Raya Sabilal Muhtadin sekarang berdiri.

Fort van Tatas seterusnya berkembang menjadi pusat pemerintahan VOC Belanda selama beberapa dasawarsa di wilayah yang (sebenarnya) menjadi hak milik Kerajaan Banjar. Ia menjadi simbol kekuasaan VOC Belanda di wilayah Kalimantan  (selatan, tengah dan tenggara).  Di benteng ini pula pada masa-masa berkecamuknya Perang Banjarmasin dijadikan sebagai penjara, atau pun tempat transit (sebelum tawanan dikirim ke tempat pembuangan selanjutnya), sekaligus menjadi ladang pembantaian atau eksekusi hukuman mati terhadap pahlawan-pahlawan Perang Banjar yang tetap tidak mau berkompromi dengan pihak asing.


Berpindah Kepemilikan


Benteng Taboneo dan Benteng Tatas pernah berada dalam penguasaan Kerajaan Banjar pada sekitar tahun 1808 sampai 1816. Pada masa itu, gubernur jenderal Belanda yang berkedudukan di kota Batavia, Daendels, memerintahkan residennya yang berkedudukan di Fort van Tatas untuk meninggalkan wilayah Kerajaan Banjar akibat maskapai dagang Belanda ini mengalami kerugian berkepanjangan selama mengikat kerjasama perdagangan dengan penguasa Negeri Banjar.

Selain itu, alasan lain yang menjadi penyebab hengkangnya VOC Belanda dari Negeri Banjar adalah karena faktor kekalahan yang diderita Pemerintah Jajahan Belanda di Nusantara dalam peperangan melawan tentara Inggris. Tanggal 26 Agustus 1811, tentara Inggris berkekuatan 60 buah kapal perang serta 12.000 anggota pasukan yang dipimpin Jenderal Auchmuty berhasil menguasai kota Batavia, wilayah Jatinegara, Bogor dan Cirebon, sehingga memaksa Gubernur Jenderal Janssens (bekas gubernur jenderal Belanda di Tanjung Harapan) mundur ke wilayah Semarang.

Upaya mempertahankan diri di Semarang ternyata tidak mampu menaikkan moril pasukan Belanda yang sudah jatuh hampir ke titik nadir. Akhirnya pasukan Belanda benar-benar menyerah kepada balatentara Inggris di suatu desa, sekitar kota Salatiga di Jawa Tengah, bernama desa Tuntang. Penyerahan Belanda kepada Inggris ini disepakati dengan dilakukannya penandatanganan naskah Kapitulasi Tuntang pada tanggal 18 September 1811, yang berisi pernyataan, salah satunya yang terpenting , Pulau Jawa maupun daerah-daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda agar diserahkan kepada penguasa Inggris.

Sejak itulah, mulai tahun 1811 sampai  tahun 1816, daerah-daerah jajahan Belanda di Nusantara beralih dikuasai Inggris, dan oleh Gubernur Jenderal Inggris (East Indian Company) Lord Minto yang berkedudukan di India, kemudian mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa Inggris yang berkedudukan di kota Batavia.

Sepeninggal VOC Belanda dari Negeri Banjar, kedua buah benteng yang bernilai sangat strategis itu sekarang berada dalam kekuasaan Sultan Sulaiman, dan Kerajaan Banjar pun kembali bebas melakukan hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa asing selain Belanda.

Untuk mewakili kepentingannya di Negeri Banjar, Raffles kemudian mengangkat Alexander Hare menjadi residen Banjarmasin. Dan demi mengamankan kepentingannya lebih lanjut di Negeri Banjar, pemerintah Inggris kemudian mengikat suatu perjanjian dengan Kerajaan Banjarmasin yang dituangkan dalam Perjanjian Martapura pada tahun 1812  antara raja Kerajaan Banjarmasin (Sultan Sulaiman) beserta para petinggi dan pangeran Kerajaan Banjarmasin dengan Alexander Hare dari pihak English East India Company.  Aktivitas perdagangan di Negeri Banjar pun semakin bertambah ramai setelahnya, yang mana kemudian menarik minat Gubernur Jenderal T. S. Raffles membuka suatu daerah baru yang luas sebagai pinjaman feodal dari Sultan Banjar untuk dijadikan areal perkebunan lada di daerah yang bernama Maluka, yang meliputi Liang Anggang, Kurau dan Pulau Lamai di dekat kota Plaihari sekarang.

Dengan bantuan Gubernur Jenderal Raffles di Jawa pula, pejabat kolonial Alexander Hare mampu mendapatkan pasokan tenaga kerja berjumlah besar (kurang lebih 4.000 orang; menurut Gazali Usman, sekitar 5.000 orang; menurut Paul van't Veer) dari Pulau Jawa untuk dijadikan pekerja-pekerja perkebunan di Maluka. Pengerahan dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap para pekerja perkebunan asal Jawa oleh tuan kebun Inggris di Maluka sempat menimbulkan kehebohan pada waktu itu karena lebih mengarah pada perbudakan gaya baru. Peristiwa inilah yang kemudian lebih dikenal sebagai 'Bandzermasing Enormity'.

Relasi antara Kerajaan Banjarmasin dengan Kompeni Inggris sayang sekali tidak terlalu banyak dimuat dalam literatur sejarah Banjar. Padahal sampai abad ke-17 dalam dunia pelayaran armada laut bangsa Inggris, tempat atau negeri bernama Banjarmasin rupa-rupanya sudah lama mereka kenal dan dipetakan. Dalam peta H. Lailot yang berangka tahun 1694 sudah tertera nama 'Bendar Maffen'. Lalu dalam 'Peta Kepulauan Melaju'  yang diambil dari buku Kamus Melaju-Inggris dan Inggris-Melaju karangan Thomas Bowrey pada tahun 1701 tercantum nama 'Baniarmafseen' dengan bentuk tulisan dan huruf yang sangat jelas berwarna hitam dan tinta yang tebal; memberikan suatu kesan bagi pembacanya bahwa 'negeri' ini sebegitu pentingnya bagi armada dagang Inggris pada masa itu. Kemudian berturut-turut nama Banjarmasin diterakan dalam peta Guillaume C. pada tahun 1750 dengan nama 'Benjar Mafen', dan peta Janviera A. pada tahun 1780 dicantumkan dengan nama 'Banjarmasffen'.

Yang sangat menarik untuk dicermati adalah nama 'Martapura' justru tidak ada sama sekali tercantum dalam peta-peta para pelaut Inggris, yang ada melulu nama 'Banjarmasin'. Padahal dari tahun 1694 -saat peta H. Lailot dipakai sampai keluarnya peta Janviera A. pada tahun 1780, raja-raja (sebanyak lima orang raja; Sultan Saidullah, Sultan Tahlillullah, Sultan Tamjidullah, Sultan Tahmidullah I, Sultan Tahmidullah II) yang memerintah Kerajaan Banjarmasin tahtanya selalu berkedudukan di Martapura.    




Cap/stempel  raja  Banjar (Sultan Sulaiman) beserta para pembesar Kerajaan Banjarmasin dalam lembaran terakhir tractaat/perjanjian antara Kerajaan Banjarmasin dengan English East India Company (Serikat Dagang Inggris) yang diwakili Alexander Hare pada tahun 1812. Atas ke bawah: stempel berwarna kuning-besar milik Sultan Sulaiman. Stempel berwarna hijau-kecil milik Panembahan Adam, stempel berwarna merah-kecil milik Pangeran Aria Manca Negara, stempel berwarna merah-lebih kecil milik Pangeran Kusuma Wijaya, dan yang terakhir stempel berwarna merah dengan ukuran lebih kecil lagi milik Pangeran Ahmad. Naskah perjanjian ini sekarang menjadi koleksi British Library di Inggris. (sumber: Golden Letters, Writing Tradisions of Indonesia; halaman 54, buku koleksi pribadi). 



Beralih Kepemilikan Lagi


Mengingat begitu sangat bernilainya kedudukan Benteng Taboneo, ketika terjadi pengalihan kekuasaan dari Inggris kepada Belanda akibat Konvensi London (Convention of london) tahun 1814, pemerintah kerajaan Inggris dan Belanda di Erofa saling menyetujui dikembalikannya wilayah-wilayah tanah jajahan milik Belanda yang pernah dikuasai Inggris.
Dengan dasar kesepakatan itu, Belanda berniat hendak bercokol lagi di wilayah Kerajaan Banjar, maka dibuat lagi perjanjian antara Belanda dengan Kerajaan Banjar pada tahun 1826 dan 1856, dengan tujuan untuk mengambil alih lagi penguasaan atas Benteng Taboneo. Karena dengan dikuasainya benteng yang berada di jalur masuk ke wilayah kerajaan Banjar ini akan membuka jalan bagi Belanda untuk menguasai salah satu kerajaan maritim terpenting di Nusantara.

Dan menginngat hal itu pula, Benteng Taboneo menjadi incaran rakyat Banjar dan kemudian berhasil direbut oleh pasukan Kerajaan Banjar pimpinan Demang Leman, Kiyai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin. Pejabat gezaghebber Tanah Laut beserta anak buahnya yang berada di dalam benteng tewas bersimbah darah. Untuk beberapa lama Benteng Taboneo beralih kepemilikan, dan menjadi benteng pertahanan rakyat Kerajaan Banjar di masa-masa awal berkecamuknya Perang Banjar pada yahun 1859.

Pendudukan oleh laskar Kerajaan Banjar atas Benteng Taboneo merupakan rangkaian dari perang terbuka yang dicetuskan petinggi-petinggi Kerajaan Banjar waktu itu, Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari, yang diawali dengan penyerbuan terhadap benteng Belanda yang berlokasi di wilayah pertambangan batubara Pengaron (wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjar sekarang) pada tanggal 20 April 1859.
Usaha pihak penjajah untuk merebut kembali benteng strategis di dekat muara Sungai Taboneo gagal total walaupun telah mendapat dukungan kuat dari beberapa buah kapal perang milik armada angkatan laut Hindia Belanda yang dikirim langsung dari kota Batavia.

Kapal perang 'Bone' yang dipersenjatai  dan lengkap dengan  anggota pasukan yang dipimpin seorang berpangkat perwira dari angkatan laut Hindia Belanda, Letnan Cronenthal, terpaksa mundur teratur dan berbalik arah  ...........................


Lukisan benteng Tabonio  (sumber: Museum Negeri Kalimantan Selatan, Banjarbaru)




Gambaran "Benteng Taboneo" pada tahun 1861








..................... bersambung

Selasa, 21 Juni 2011

KAMPUNG BANJAR - SEMARANG, MASIH ADAKAH ?

Di kota Semarang, ibukota propinsi Jawa Tengah ada Kampung Banjar? Yang benar saja. Haaaa, memang benar-benar ada? Dimana persisnya? Ya, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang menggelayuti pikiran saya sekian tahun yang lalu ketika menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Nama Kampung Banjar di kota Semarang pertama kali saya dengar dari penuturan seorang teman duduk saya di sebuah bus ketika saya mengadakan perjalanan dari kota Semarang ke Yogyakarta sekitar bulan Oktober 1998. Sulaiman N.A., demikian nama teman duduk saya tadi mengenalkan diri.  Beliau kebetulan adalah seorang tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.

Tak banyak memang informasi yang saya peroleh dari Pak Sulaiman N.A. perihal keberadaan orang-orang Banjar asal Pulau Kalimantan yang membuka perkampungan di ibukota Provinsi  Jawa Tengah tersebut.  Tetapi bagi mereka yang memiliki 'sedikit'  instink jurnalistik, informasi dalam jumlah berapa pun -sedikit, apalagi banyak- tentu saja sama-sama berharganya.

Menurut penuturan Pak Sulaiman N.A., komunitas orang-orang Banjar di kota Semarang terkonsentrasi di dua tempat, yaitu di Kampung Banjar; utamanya di wilayah Jalan Petek dekat lokasi berdirinya Hotel Hwasia dan hotel Singapura. dan yang kedua adalah di Kampung Melayu, yang letaknya sekitar Jalan Layur. Kedua kampung ini, kata Pak Sulaiman N.A., merupakan bagian dari Kota Lama Semarang yang sangat banyak memiliki warisan bersejarah berupa bangunan-bangunan tua dan antik peninggalan masa kolonial.


Banjar Kauman

Ketika pada kesempatan yang kedua kalinya menginjakkan kaki di kota 'lumpia' ini untuk hanya sekedar transit menuju Jakarta bersama-sama isteri, puteri dan dua orang adik perempuan saya, kurang lebih lima tahun setelah kunjungan pertama saya pada bulan Oktober 1998 yang lalu, lagi-lagi saya tidak sempat menyambangi Kampung Banjar di Semarang. Adaaa saja halangannya.

Untuk sekedar mengobati kekecewaan di hati, saya bertolak ke Masjid Besar Semarang atau Masjid Kauman, sebuah masjid tua yang sangat bersejarah dan mempunyai nilai historis tinggi, karena merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari sejak awal jaman kerajaan Islam di Tanah Jawa, dan telah dilindungi undang-undang kepurbakalaan. Usai menunaikan shalat fardhu disana, saya berjalan-jalan ke Kampung Kauman, yang letaknya relatif tidak terlalu jauh dari Masjid Besar Semarang.

Di sebuah rumah tua berarsitektur campuran Jawa dan Kolonial, terhampar pemandangan menarik. Di serambi dan bagian depan rumah yang telah dialihfungsikan menjadi semacam 'coffie shop', beberapa lelaki sedang berceloteh, 'dadarau-an'  suaranya. Di sudut lain, tiga orang lelaki sedang asyik memperhatikan 'sesuatu benda'  yang baru saja dikeluarkan dari sebuah kotak yang berpenampilan mewah dan menarik. Sedangkan rekannya yang lain, dengan menggunakan sebuah kaca pembesar berbentuk khusus, dengan tekun 'mengeker' benda yangbaru saja diambil dari kotaknya dan dijepit dengan ibu jari serta jari telunjuknya.











Sesekali terdengar suara tawa, 'ba-darau' lagi, yang diselingi dengan ucapan-ucapan dengan menggunakan bahasa campuran. Kadang-kadang berbahasa Indonesia, yang kemudian diselingi dengan bahasa daerah setempat, Jawa. Tapi yang lebih banyak adalah celotehan dalam bahasa Banjar yang kental. Itu pula yang keluar  ...............................................


bersambung




















































































Senin, 06 Juni 2011

GELAR PAHLAWAN NASIONAL UNTUK SULTAN MUHAMMAD SEMAN , MUNGKINKAH ?

Apakah mungkin sosok Sultan Muhammad Seman dijadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes