Senin, 19 November 2012

ADA JALAN BANJAR DI GORONTALO


Selasa, 06 November 2012

SAPAKIRA, JELAJAH NEGERI KE KAMPUNG KAMPUNG BANJAR DI NUSANTARA

Amplop surat ber-cap Toko "SAPAKIRA" di  Jalan ENERGI  Gang ANGGREK No. 4  MATARAM 03114 (Foto: Koleksi Pribadi)

Senin, 10 September 2012

BRUNEI, DAN KISAH PARA ULAMA DINASTI AL-BANJARI

Tidak banyak kepustakaan di Banjarmasin yang menyimpan tulisan tentang asal-usul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ketika ada seorang sarjana-sejarawan Banjar yang 'menyinggung' tentang moyang ulama besar ini yang ternyata bukanlah asli Banjar, ada sedikit rasa terkejut yang muncul. Mungkinkah? Lama setelah itu, Penulis mempunyai kesempatan berkorespondensi dengan seorang warga Malaysia berdarah Sulu, Asree Sug namanya. Ia membenarkan adanya keterkaitan ulama besar Banjar yang dikenal di seantero Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Siam bagian selatan, dan sebagian wilayah Filipina) lewat tulisan beliau, Sabilal Muhtadin, dengan tanah leluhurnya di Kepulauan Sulu (sekarang masuk wilayah negara Filipina) sekarang.

Menurut penuturan Asree Sug, sampai sekarang masih sangat banyak peninggalan para leluhurnya yang berasal dari Kepulauan Sulu di Tanah Banjar. Beberapa kosa-kata bahasa Banjar pun, menurutnya, banyak mempunyai kesamaan dengan kosa-kata dalam bahasa asli Sulu yaitu bahasa Tausug. Hal itu terbukti ketika saya memberikan beberapa kosa kata bahasa Banjar ada ada kemiripan serta mempunyai arti yang sama dengan bahasa Suluq atau Tausuq.

.............................. bersambung .....................


Jumat, 03 Agustus 2012

Senin, 11 Juni 2012

JALAN KALIMANTAN, JALAN KENANGAN WARGA BANJAR DI MAKASSAR



Rabu, 09 Mei 2012

SURABAYA, NOVEMBER 1945, DAN KETERLIBATAN ORANG-ORANG BANJAR DALAM PERANG MELAWAN SEKUTU (INGGRIS)





Hasan Basri, Gusti Mayur, Kolonel Firmansyah, beberapa orang dari beratus-ratus warga Banjar-Kalimantan yang sempat ikut terlibat dalam perang di Surabaya melawan tentara Sekutu.


Rongsokan mobil sedan yang dikendarai Jenderal Mallaby


" Semua pihak berkorban demi republik yang baru berusia dua bulan. Tercatat laskar wanita, barisan bambu runcing, laskar gabungan sekolah menengah, laskar angkatan pemuda Indonesia, laskar tentara angkatan laut, laskar angkatan muda kereta api, laskar angkatan muda penerbangan Indonesia, laskar pemuda Republik Indonesia Kalimantan, ......................... bertempur mati-matian ".



Mengapa di Surabaya? Mengapa tanggal 10 November 1945? Mengapa dan sampai sejauh mana keterlibatan orang-orang Banjar dalam perang yang kemudian melambungkan nama kota Surabaya di dunia internasional pada masa itu, serta siapa saja nama-nama orang-orang Banjar yang ikut terlibat?  Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan dicoba dicarikan jawabannya dalam tulisan ini.



Putera-putera terbaik Indonesia di Surabaya dengan persenjataan modern hasil rampasan dari tentera Jepang


bersambung .........................................

Minggu, 18 Maret 2012

HEROISME BANJAR DI SEBERANG LAUTAN Kisah Kepahlawanan Orang Orang Banjar di Semenanjung Tanah Melayu Kasus Perang Sungai Manik





Pada suatu masa dahulu, jauh sebelum terbentuknya negara bernama Indonesia, kaum bangsa pendatang asal Negeri Banjar (di Kalimantan, Indonesia sekarang) pernah menggegerkan dan menorehkan tinta emas dalam sejarah beberapa daerah di Nusantara (baik di daerah-daerah di Indonesia sendiri maupun di beberapa negeri tetangga kita)  karena keberanian dan sifat kepahlawanan mereka. Di Indonesia misalnya, dapat disebutkan disini sepak terjang para pendatang asal Negeri Banjar yang membantu Kerajaan Selaparang di Pulau Lombok ketika memadamkan pemberontakan seorang patihnya yang bernama Arya Banjar Getas.

Di Kalimantan Barat, putera-putera terbaik Banjar juga pernah menghalau para perompak (lanon) yang merajalela dan mengganggu wilayah Kerajaan Matan, tepatnya Kerajaan Tanjungpura-Matan yang terletak di hulu Sungai Pawan (propinsi Kalimantan Barat sekarang) pada kisaran waktu 1874 M.  Adalah seorang perwira dari kraton Kerajaan Banjar di Martapura bernama Haji Mas Mohammad Abbas yang berjasa besar menundukkan perompak-perompak yang mengganggu aktivitas para pedagang asing yang ingin berniaga dengan Kerajaan Tanjungpura-Matan. Haji Mas Mohammad Abbas kemudian diberi gelar kehormatan 'Punggawa Kuala Matan' oleh Panembahan Kerajaan Tanjungpura-Matan atas jasa-jasanya tersebut.

Di masa penjajahan Belanda (1945 - 19490), orang-orang asal keturunan Banjar di Sumatera (terutama wilayah sekitar Kuala Tungkal di Jambi dan sekitarnya) bergabung dalam suatu kesatuan tentara yang dikenal dengan sebutan Laskar Hizbullah/ Laskar Selempang Merah. Mereka bahu mambahu dengan orang-orang pribumi Sumatera berperang menghadapi pasukan kolonial Belanda. Di Pulau Jawa ketika berkecamuknya revolusi 1945, orang-orang Banjar dari berbagai elemen, baik pelajar ataupun pedagang dan ulama yang menetap disana ikut memberikan sumbangsih mereka, berjuang bahu membahu bersama-sama pemuda-pemuda dari berbagai daerah dalam pertempuran hidup mati menghadapi pasukan gabungan tentara Inggris, Gurkha, dan NICA Belanda di kota Surabaya pada pertempuran Surabaya tanggal 10 November 1945.

Di negeri jiran Malaysia, orang-orang Banjar disana tidak kalah taruh. Dalam sejarah perang antara Negeri Kedah dengan Kerajaan Siam dikenal seorang panglima perang asal keturunan Banjar bernama Haji Timur yang membantu Kerajaan Kedah dan mampu memadamkan kelaliman tentara Kerajaan Siam. Pun, di masa pasca berakhirnya pendudukan tentara Jepang di Semenanjung Tanah Melayu, orang-orang Banjar tidak sudi berdiam diri menyaksikan huru hara yang dilakukan orang-orang Cina Komunis Malaya di daerah Balun Bidai , Tebuk Berihun maupun di wilayah Sungai Manik.


Sungai Manik dan Orang Orang Banjar di Malaysia

Wilayah Sungai Manik terletak di ....


 
bersambung.............................

Kamis, 02 Februari 2012

BERWISATA KE KAMPUNG-KAMPUNG BANJAR DI NUSANTARA, Dari kota Kupang sampai ke Negeri Kedah



Mendokumentasikan semua Kampung Banjar yang ada di seluruh penjuru wilayah Indonesia maupun negeri jiran di Nusantara  (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand) dalam bentuk buku maupun rekaman video sangat menggoda benak saya. Sudah ada beberapa wilayah/kota di Indonesia yang pernah saya kunjungi dan buatkan tulisannya, tetapi tidak/belum pernah saya buatkan dalam bentuk rekaman di cakram video.  Sebagian kecil dari kota-kota yang mempunyai perkampungan Banjar dan pernah saya kunjungi itu kemudian sempat saya rekam dalam bentuk tulisan, dan telah dimuat di dalam web-blog saya: SuluhBanjar.blogspot.com. Sebagian, yang belum sempat dibuatkan tulisannya masih tersimpan dalam arsip tertulis di buku catatan saya.

Sebagian wilayah/kota di Indonesia yang pernah saya kunjungi dan dibuatkan tulisannya itu terletak/berada di Pulau Jawa dan arah ke timur Nusantara seperti Pulau Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara.  Sedangkan
beberapa wilayah/kota di Pulau Sulawesi (antara lain, Makassar, Manado,     ..................

bersambung ........................
 


 








Rabu, 01 Februari 2012

SUMBANGSIH BANGSAWAN BANJAR DALAM PERANG PADERI



.................. "Tersebut lah nama seorang pangeran dari Banjar yang wafat di (kota) Padang (propinsi Sumatera Barat sekarang), Pangeran Dipasanta namanya. Pangeran ini berada di Padang sewaktu mambantu Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Paderi". Demikian sedikit kalimat nukilan yang diambil dari Kitab Irsyadiah karya Syekh Abdurrahman Siddiq berangka tahun 1910.


bersambung ...................



Minggu, 22 Januari 2012

JEJAK (FAMILI) PANGERAN DIPONEGORO DI TANAH BANJAR




Sangat mustahil memang menelusuri (di Banua kita,Tanah Banjar) jejak langkah dan sepak terjang pemimpin dan pencetus Perang Jatwa yang sangat terkenal ketangguhannya ketika melawan Belanda. Ini ide , yang menurut hemat saya, terlalu dicari-cari, dan sepertinya tidak ada lagi (kah) ide penulisan yang lain?  Untuk menulis judulnya pun sangat menyita energi. sampai kemudian saya menemukan kata 'famili'  yang ditaruh ditengah-tengah tanda kurung agar judul tulisan ini lebih bisa diterima logika pembaca.

Maaf, di lain kesempatan tulisan ini akan saya sambung......................................................

                                         

Amir Hasan Kiai Bondan Kejawan, salah seorang keturunan dari kerabat Pangeran Diponegoro bernama Raden Mas Koesoemo Dirdjo, yang diasingkan ke Banjarmasin dari tempat pengasingan (awal) yang terdahulu di Ambon.
Raden Mas Koesoemo Dirdjo adalah kemenakan sekaligus pendamping (salah seorang panglima perang)  Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Beliau wafat di Banjarmasin, dan dimakamkan di suatu komplek pemakaman keluarga di  Sungai Lulut, tepatnya di tepi Jalan Veteran - Sungai Lulut, sebelah kiri sebelum simpang tiga ke arah Jalan Pramuka. Di komplek pemakaman tua ini pada mulanya terdapat pintu gerbang penanda yang bertuliskan nama komplek pemakaman dengan maksud agar keluarga/khalayak mudah menemukan tempatnya. Tapi sekarang pintu gerbang tersebut sudah tidak ada lagi.


bersambung .......................

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes